
*Tulisan ini dimuat di Pikiran Rakyat pada Juli 2017 dan mendapatkan award dari Menristekdikti, Moh Nasir, pada Peringatan Harteknas 2017 di Makassar.
AMIN Saripudin memilih berjudi dengan nasib. Keramba ibarat meja, ikan kerapu jadi dadunya. Kakek 80 tahun ini bahkan tak tahu apakah ikan kerapu macan yang dia budidayakan bakal membawa keuntungan, atau justru semakin memperburuk keadaan. Ini langkah nekat karena ilmu budidaya yang dimilikinya pun masih amat dangkal. Tapi apa boleh buat, mencari ikan di laut Pangandaran sudah tak lagi bisa diandalkan.
Di teras rumah sederhananya, di perkampungan nelayan Kecamatan/Kabupaten Pangandaran, 27 Februari 2017, Amin hanya duduk-duduk santai. Jala bergelantungan di depannya. Kotak-kotak plastik yang biasanya menampung ikan, bertumpuk tak jauh dari sana. Amin bahkan tak ingat, berapa lama jala yang bergelantungan itu kering tanpa ditebar di lautan. “Dari pada melaut tidak dapat ikan, soalnya satu tahun terakhir paceklik,” kata sang nelayan.
Meski baru pertama kali terjun dalam dunia budidaya, dia tak mau tanggung-tanggung. Ini pertaruhan besar. Menyangkut hajat hidup dia dan keluarganya. Uang tabungan Rp 25 juta digelontorkan. Sebagian digunakan membeli bambu, drum, dan jaring. Ditambah ongkos pengerjaan, maka jadilah keramba berukuran 8×6 meter berisi empat buah kolam. Mengapung puluhan meter dari bibir Pantai Timur Pangandaran.
Sebagian lagi dari modal tadi, dia belikan 2.000 ekor benih ikan kerapu macan. Benih didatangkan langsung dari Situbondo, Jawa Timur. Jelas harus dari luar daerah. Soalnya di Pangandaran, budidaya ikan masih terbilang asing. Jadi tak ada yang menjual benih kerapu macan di kabupaten ini.
Selain benih, pakan juga bernasib sama. Belum maraknya budidaya ikan, khususnya kerapu macan di Kabupaten Pangandaran, membuat pakan sulit diperoleh. Kalaupun ada, ya lebih mahal. Padahal setiap harinya, Amin yang dibantu seorang anaknya, butuh 20 kilogram ikan-ikan kecil jenis teri untuk pakan kerapu macan. Lagi-lagi, dia harus mendatangkan dari luar daerah.
Merintis hal baru memang sulit. Kendala juga datang silih berganti. Namun usaha harus terus dilakukan. Setidaknya, sampai masa budidaya selama lima bulan bisa dituntaskan, lantas mencicipi panen pertamanya. Dari sana bisa diketahui, apakah perjudiannya berhasil? Atau gagal?
“Harga kerapu macan tinggi di pasaran, Kang. Kalau panen, bisa sampai Rp 250 ribu per kilogram,” kata Amin penuh harap. Berbeda dari sebelumnya, kini dia tersenyum.
Kemana perginya ikan-ikan?
Cuma selemparan batu dari kediaman Amin, puluhan nelayan ramai berkumpul. Bukan untuk melaut bersama. Tak ada perahu di sana. Hanya ada balai dengan dinding terbuka. Di dalamnya, mereka bahkan sama-sama rapih mengenakan batik. Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Unit Desa Minasari, akan segera berlangsung. Sebuah koperasi nelayan yang dipandang paling maju di Pangandaran. Selama ini, KUD Minasari itulah yang menaungi para nelayan. Membeli hasil tangkapan lantas menyalurkannya.
Sambil menjalani RAT, para nelayan ini bercengkrama penuh senyum dan keakraban. Beberapa yang lain nyambi makan nasi kotak. Suasana ramai sebagaimana mestinya acara tahunan sebuah perkumpulan. Namun dari wajah mereka, jelas terlihat rona bingung dengan hasil tangkapan. Kemana perginya ikan-ikan? Data yang akan dibuka di RAT pun, tak akan lebih dari deretan angka penegas dari situasi sulit yang sudah mereka rasakan.
Dari data yang dipaparkan memang terkalkulasi, hasil tangkapan sepanjang 2016 terjun bebas dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Angkanya 551 ton. Nilai penjualannya Rp 26 miliar.
Padahal tahun 2015 saja, koperasi ini mampu mengepul 1.405 ton. Nilai penjualannya bisa Rp 45 miliar sampai Rp 50 miliar. Itu artinya, musim paceklik sudah merenggut 900 ton ikan dari jala nelayan-nelayan Pangandaran. Uang yang menguap pun sedikitnya bernilai RP 18 miliar. Sedikitnya.
Ikan-ikan yang entah kemana itu, kebanyakan merupakan jenis ikan andalan para nelayan karena harganya yang mahal. Sebut saja bawal putih. Rata-rata, jenis ikan ini menyumbang pendapatan sampai Rp 20 miliar setiap tahun pada KUD Minasari. Namun sepanjang paceklik, nihil.
Dari sini musabab paceklik mulai disadari, cuaca. Ikan bawal putih dan beberapa ikan lain yang menjadi tangkapan favorit, muncul saat masa kemarau. Semakin kering dan panas cuaca, makin banyak mereka mampir ke Pangandaran. Sementara sepanjang 2016 adalah musim la nina. Hujan selebat-lebatnya saat musim hujan. Kemaraunya pun kemarau basah, kemarau yang tetap ada hujan. Pantas jika kalimat ‘2016 menjadi tahun sulit bagi nelayan’ berulang kali terlontar sepanjang RAT.
Di antara nelayan-nelayan anggota koperasi, sebenarnya sudah ada pula yang berganti profesi. Setidaknya untuk sementara, sampai paceklik berakhir, meski entah kapan. Melaut di masa paceklik, sama saja dengan menggelar ritual bunuh diri. Lir merelakan usaha berujung kerugian.
Hitung-hitungannya, setiap kali menangkap ikan, para nelayan butuh modal rata-rata Rp 300 ribu. Itu untuk operasional termasuk bahan bakar perahu. Namun saat pulang, ikan yang diperoleh paling-paling bernilai Rp 100 ribu. Rugi betul.
“Dari pengalaman tekor itu, ya hampir setahun ini memang tidak melaut,” kata Mamat (67), nelayan anggota koperasi.
Mencari solusi, merintis transisi
Isu cuaca menjadi pembicaraan hangat di Pangandaran. Tak cuma di kalangan nelayan, tapi sampai ke telinga para pemangku kebijakan. Aspirasi bernada keluh banyak dilontarkan. Termasuk pada Ade Supriatno. Sejak Januari 2017, dia menduduki jabatan Kepala Seksi Pengelolaan dan Penyelenggaraan Tempat Pelelangan Ikan di Dinas Kelautan dan Ketahanan Pangan Kabupaten Pangandaran. Namun sebelum itu pun, dia sudah lama menangani perihal ikan dan nelayan di dinas yang sama.
Keluhan nelayan beragam suara, tapi benang merahnya sama. Intinya, bagaimana menolong nelayan yang paceklik akibat cuaca?
Lantas terpikir sebuah pertanyaan balasan yang justru bisa dijadikan jawaban. Kenapa pula harus bergantung dengan cuaca?
Dari sinilah bermula keinginan untuk mengubah kebiasaan. Dari mencari ikan tangkapan, menjadi membudidayakan ikan tangkapan. Budidaya harus segera dimantapkan. Jangan sampai sudah berganti masa, paceklik masih saja bikin nelayan nelangsa. Maka tak ada pilihan lain. Yang dibutuhkan hanyalah ilmu pengetahuan dan tempat riset teknologinya.
“Budidaya itu penting agar nelayan tidak tergantung sepenuhnya pada alam,” kata Ade Supriatno.
Dinas Kelautan Kabupaten Pangandaran, kata Ade, sebenarnya sudah sejak lama merencanakan program perintisan budidaya ikan tangkapan. Sudah pula diajukan sebagai program kerja tahunan. Namun apa daya, selalu gagal pada tahap penyediaan anggaran.
Menurut dia, tidak ada yang bisa disalahkan. Pasalnya sebagai daerah yang baru otonom pada 2012, APBD Pangandaran masih serba terbatas. Walaupun memang, bukan berarti tak ada jalan lain untuk membuat masalah ini tuntas.
Datangnya sumber keilmuan
Pertengahan 2016, saat paceklik ikan sudah membuat banyak nelayan berhenti melaut, budidaya juga masih dilakukan tanpa keilmuan yang patut, sebuah perguruan tinggi ternama di Jawa Barat resmi beroperasi di kabupaten ini. Mahasiswa angkatan pertama Universitas Padjadjaran multikampus Pangandaran memulai perkuliahan. Terdiri dari lima program keilmuan; keperawatan, administrasi bisnis, ilmu komunikasi, peternakan, dan perikanan. Ya, perikanan.
Jumlah mahasiswa yang bisa ditampung memang belum banyak. Cuma di kisaran 30 orang tiap program studinya. Namun cukup memberi harapan.
Sadar keberadaan perguruan tinggi negeri sebagai sumber keilmuan sangat dibutuhkan, termasuk untuk memajukan sektor perikanan, Pemkab Pangandaran tak tinggal diam. Lahan seluas 30 hektar diserahkan cuma-cuma. Nantinya, di sana akan dibangun kampus Unpad Pangandaran. Pemkab tak membiarkan proses belajar para mahasiswa ini terus dilakukan di ruang kelas SD hasil pinjaman. Padahal, mulanya lahan itu disediakan untuk membangun kantor-kantor pemerintahan, yang sampai kini masih menempati bangunan hasil sewaan.
“Kami sudah analisa lahan itu, hasilnya cukup baik. Kami targetkan wisuda angkatan pertama Unpad Pangandaran nanti sudah di kampus baru,” kata Rektor Unpad, Tri Hanggono Achmad, 13 Maret 2017.
Pusat teknologi kemaritiman penambah harapan
Salah satu alasan merananya masyarakat pesisir, adalah usaha kelautan mereka masih saja menggunakan teknologi yang diwariskan turun-temurun. Tidak ada pembaruan sama sekali. Dengan demikian, butuh inovasi yang bisa mendongkrak pendapatan, bahkan memantik perkembangan usaha.
Perguruan tinggi negeri sebagai penggodok calon ahli perikanan, sudah tersedia dengan datangnya Unpad. Kini, tinggal tempat berkiprah para lulusannya nanti.
Lagi-lagi, Kabupaten Pangandaran patut bersyukur. Di tengah masih minimnya anggaran, tak tanggung-tanggung, dua proyek pembangunan pusat riset kemaritiman menghampiri kabupaten ini.
Pertama, pembangunan Pangandaran Integrated Aquarium and Marine Research Institute (Piamari). Kedua, pembangunan Marine Techno Park. Keduanya sama-sama program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan. Dengan keberadaan dua pusat riset tersebut di Pangandaran, masyarakat setempat tentu bisa terprioritaskan. Tepatnya diprioritaskan terkait inovasi apa yang mereka dibutuhkan.
Proses penyusunan Detail Engineering Design (DED) untuk proyek Piamari dinyatakan rampung akhir 2016. Proyek pembangunannya diharapkan sudah bisa dimulai tahun 2017 ini.
Karena merupakan program KKP, proses lelang dilakukan oleh langsung oleh kementerian pimpinan Susi Pudjiastuti itu. Anggaran yang disediakan berkisar di angka Rp 170 miliar. Sementara Pemerintah Kabupaten Pangandaran sebagai otoritas wilayah, bertanggung jawab menyediakan lahan.
Di kawasan Piamari, sejumlah fasilitas edukasi yang belum ada di Pangandaran bakal tersedia. Beberapa di antaranya adalah tempat penelitian kemaritiman, laboratorium, akuarium raksasa, pelabuhan khusus nelayan, sampai museum.
Proyek lainnya, Marine Techno Park, ditempatkan tak jauh dari lokasi pembangunan Piamari. Tujuannya, agar terintegrasi. Meski ada kesamaan dalam hal penelitian kemaritiman, hasil penelitian Marine Techno Park tidak hanya untuk kebutuhan edukasi, melainkan lebih berorientasi profit.
Nantinya, inovasi kelautan yang dihasilkan Marine Techno Park harus bisa mendatangkan pendapatan tambahan bagi masyarakat Pangandaran yang menggunakan inovasi tersebut. Tentu salah satu kalangan utamanya adalah nelayan dalam hal ketersediaan ikan.
Marine Techno Park, secara umum, bisa menghasilkan inovasi baru terkait kemaritiman. Termasuk merintis teknik memelihara ikan tangkapan nelayan yang belum pernah dibudidayakan.
Namun bisa juga menindaklanjuti inovasi dasar yang sudah lebih dulu ada di tempat lain. Misalkan, melakukan pengembangan teknologi bandeng tanpa duri yang sudah ada di Sidoarjo agar bisa diterapkan di Pangandaran. Juga mengembangkan inovasi tambak udang skala kecil berbahan plastik agar bisa digunakan warga kabupaten ini.
Marine Techno Park di Kabupaten Pangandaran merupakan bagian dari program pemerintah pusat yang ingin membangun 100 Marine Techno Park di berbagai daerah pesisir laut di Indonesia.
Meski Marine Techno Park sama-sama merupakan program dari Kementerian Kelautan dan Perikanan, namun realisasinya melalui Sekolah Tinggi Perikanan (STP) Jakarta sebagai general manager program tersebut. “Jadi Marine Techno Park bisa digunakan untuk masyarakat dalam meningkatkan kemakmuran mereka,” ujar Ketua Sekolah Tinggi Perikanan Jakarta, Mochammad Heri Edy.
Fondasi perdana bupati pertama
Kabupaten Pangandaran adalah anak bungsu di Jawa Barat. Masih tertatih-tatih menapaki usia ke-empat. Sebagai langkah awal pembangunan, pendidikan menjadi hal paling utama. Pendidikan adalah investasi terbaik. Alasan itu pula yang membuat Jeje Wiradinata, Bupati Pangandaran semringah dengan dibukanya Unpad multikampus Pangandaran.
Tak segan dia merelakan 30 hektar lahan untuk dibangun kompleks perguruan tinggi tersebut. Untuk mendirikan kantor-kantor dinas, tak apalah mencari lagi. Bahkan sebelum kompleks kampus Unpad di Pangandaran berdiri, Pemkab pun rela mencari pesantren di wilayahnya untuk digunakan asrama para mahasiswa.
Ilmu pengetahuan dan riset teknologi adalah modal. Bukan cuma untuk menuntaskan masalah perikanan. Toh nantinya, Pangandaran juga butuh tenaga kesehatan, pakar pendidikan, sampai ahli kepariwisataan. Minimal dalam waktu dekat, tingkat pendidikan masyarakat Pangandaran bisa meningkat.
“Awalnya APK (angka partisipasi kasar) jenjang perguruan tinggi Kabupaten Pangandaran itu 8%. Dengan adanya multi kampus Unpad saja, lumayan bisa meningkat jadi 20%,” ujar bupati mengemukakan perhitungannya.
Unpad akan mencetak sumber daya manusianya, Marine Techno Park menjadi tempat berkiprahnya, berbagai lembaga pemerintahan sebagai penopangnya, serta nelayan menjadi kekuatan arus bawahnya. Semua sudah lengkap dan siap untuk berkolaborasi.
Ini membuat Jeje Wiradinata sudah sedikit bisa bernapas lega. Sebagai bupati pertama Kabupaten Pangandaran, dia tinggal memastikan semua fondasi dibangun dengan baik. Lantas di masa mendatang, cuaca tak akan bikin nelayan merana. Paceklik tak akan lagi mencekik. Dan jala nelayan, tak lagi merindu ikan. Semoga..